
Dalam wejangan kebatinan susuhing angin bertempat pada dada
manusia(jantung/paru-paru) ini disebut susuhing angin Jagad Cilik.Bila air ada sumbernya,yang ini sudah sangat umum kita ketahui,seprti sendang/sumur/dsb.Api juga ada sumbernya,salah satu contoh api abadi di Mrapen-Purwodadi.
Dengan hal tersebut tentunya angin juga punya sumbernya di Jagad Gedhe ini!lalu dimana letaknya? Hal misteri inilah yang medorong salah satu spiritualis muda asal Salatiga yang akrab dipanggil Mas Han untuk memburunya,dengan napak tilas jejak waskita leluhur tanah jawa,tentunya dengan usaha untuk membuktikan bahwa legenda tersebut itu ada bukan sekedar mitos belaka. Berbagai upaya beliau lakukan baik menjalani lelaku puasa,ngangsu kaweruh pada para pinisepuh,setelah bertahun-tahun akhirnya beliau bertemu seorang musyafir yang mengaku dirinya juga seorang dalang yang bernama Mbah Salimun.Orang tua yang sudah sangat renta tersebut memberikan berbagai wejangan dan babad jawa kuno yang berkaitan dengan perihal Susuh Angin.Setelah mendapat wejangan Mbah Salimun,Mas Han mulai menjalankan apa yang disarankan orang tua tesebut,dengan lelaku batiniyah minta petunjuk Sang Hyang Penguasa Jagad Raya ini. Setelah sekian lama jerih payahnya membuahkan hasil dengan mendapat petunjuk ghaib untuk mendatangi sebuah bukit.Singkat cerita,Mas Han mendatangi daerah yang sesuai dengan petunjuk tersebut,namun tidak ada hal jelas yang dia dapati,dan akhirnya Mas Han dijalan setapak tersebut ketemu seseorang yang bernama Pak Mardian.Beliau berdua asyik dalam percakapan hal yang mungkin tidak dimengerti oleh orang pada umumnya,dari hasil percakapan tersebut Pak Mardian bercerita konon bukit ini adalah kuncinya gunung tanah jawa dan di tempat inilah sering terjadi hal-hal yang ganjil diluar akal manusia,sampai sampai orang tua dulu yang tinggal di daerah sekitar bukit ini menyebut "Jalma mara Jalma mati" yang artinya Siapa yang mendatangi akan menemui celaka/mati.
Berangkat dari keterangan orang tersebut Mas Han semakin bersemangat untuk menjalankan ritual di kawasan bukit tersebut yakni di Gunung Kuncen sebutan nama warga setempat,yaitu salah satu wilayah di deretan perbukitan dibawah lereng Gunung Merbabu. Dari hasil ritual tersebut Mas Han mendapat petunjuk untuk membongkar tumpukan batu disalah satu tempat dilereng Gunung Kuncen tersebut,dengan petunjuk tersebut Mas Han meminta ijin pihak yang berwenang di kelurahan setempat yakni Poloboga dan Kalibeji,setelah mendapatkan ijin tersebut .Mas Han dibantu oleh salah satu muridnya yang bernama Sis (alm) dan teman-temannya untuk menuju lokasi,banyak warga yang menganggap orang-orang yang membongkar tempat tersebut dianggap orang yang tidak waras!namun hal tersebut tidak dihiraukan mereka. Setelah melakukan pembongkaran tersebut dan berhasil menyingkirkan batu yang besar,Mas Han mendapati sebuah lobang yang mengeluarkan angin.Dari hal itu pembongkaran dilanjutkan dan mendapati lorong goa yang dimasuki ternyata sebuah ruangan tempat pertapaan,disitu terdapat 3 lobang utama yang mengeluarkan hembusan angin besar dan 6 lobang yang hanya menghembuskan angin yang sepoi-sepoi/kecil. Setelah menemukan itu maka diadakan sedikit renovasi agar tempat itu layak dan nyaman untuk menjalankan ritual.
Dengan pememuan tersebut Mas Han berolah spiritual ditempat tersebut hingga sang penguasa Gunung Kuncen yang bersemayam di Goa tersebut memberikan tanda dan dawuh ghaib agar beliau memegang kendali sebagai juru kunci, beberapa pusaka ampuh dianugrahkan pada beliau sebagai piandel.
Semenjak itu dari mulut ke mulut orang mulai mendengar adanya goa tersebut yang dikenal dengan Goa Susuh Angin. Dari getok tular tersebut orang mulai berdatangan dari berbagai daerah dari segala penjuru pelosok nusantara bahkan sampai manca negara seperti Malaysia/Brunai/Singapura/Thailand/dsb. Mereka ada yang hanya sekedar berziarah,/ngelalap berkah,bahkan ada yang datang bertujuan untuk memuja mengambil jalan pintas yakni dengan pesugihan.
Sumber: www.indopesugihan.blogspot.com